GRATIS…. segera miliki ebook panduan budidaya cacing sutra & sidat

BERITA GEMBIRA…!!!

 

Dapatkan ebook panduan budidaya cacing sutra dan ebook panduan budidaya sidat dengan percuma

 

Klik Disini untuk mendownload ebook panduan budidaya cacing sutra.

( untuk password pembuka ebook panduan budidaya cacing sutra adalah agribisnisku )

 

Klik Disini untuk mendownload ebook panduan budidaya sidat.

( untuk password pembuka ebook panduan budidaya sidat adalah kabayaki )

Ebook Panduan Budidaya Cacing Sutra

Berita Gembira.. !!!

Panduan budidaya Cacing Sutra

ebook Panduan Praktis Budidaya Cacing Sutra

Kini telah terbit ebook “panduan praktis budidaya cacing sutra”. Sebuah ebook yang akan memandu Anda, bagaimana cara memulai/mengembangkan usaha budidaya cacing sutra. Ebook ini akan memandu Anda mulai dari persiapan budidaya, proses budidaya, cara memanen cacing sutra serta tehnik pengemasannya.

Cacing sutra dewasa ini telah menjadi komoditas andalan bagi para pelaku usaha pembibitan ikan. Ironisnya, pemenuhan kebutuhan cacing sutra dipasaran baru terpenuhi sekitar 30% saja. Itupun masih didominasi dari hasil tangkapan alam karena masih sedikit sekali yang melakukan usaha budidaya cacing sutra secara komersial.

Jarangnya peternak cacing sutra di Indonesia, bukannya disebabkan karena komoditas ini tidak menguntungkan. Persoalannya adalah masih kurangnya informasi yang dapat dipercaya dan benar-benar bisa diaplikasikan dilapangan.

Menurut data permintaan cacing sutra yang masuk. untuk wilayah Yogyakarta saja membutuhkan minimal 750 liter per hari belum lagi untuk wilayah Jawa Tengah, Solo dan daerah-daerah lainnya.

Pada musim penghujan tiba, harga cacing sutra bisa melambung hingga 15 rb – 20 rb rupiah per liternya sementara jika musim kemarau harga cacing biasanya turun menjadi 8rb – 10rb liternya. Naiknya harga pada musim penghujan tersebut disebabkan karena pada musim tersebut cacing sutra sudah mulai sulit didapat mengingat selokan-selokan / parit – parit yang menjadi tempat biasa ia tinggal di habitatnya dipenuhi oleh luapan air hujan sehingga banyak yang hanyut terbawa arus deras.

Selain mudah dibudidaya ( bagi yang sudah mengetahui tehnik budidayanya ), modal yang dibutuhkan untuk usaha budidaya cacing sutra juga relatif murah sementara masa panen bisa dilakukan setiap 10 – 14 hari sekali tanpa harus membeli bibit lagi untuk budidaya selanjutnya.

Nah, bagi Anda yang berminat mendapatkan ebook “Panduan Praktis Budidaya Cacing sutra” tersebut secara percuma,

Silahkan Klik Disini untuk mendownload ebook panduannya. (password  agribisnisku)

Terima Kasih

Salam Agribisnis

Toni Wahyudin

Usaha Pembesaran Belut HANYA Menguntungkan jika……

Beberapa bulan yang lalu, hampir setiap media baik cetak maupu elektronik setiap hari gencar memberitakan manisnya usaha budidaya belut sehingga banyak para pembaca yang begitu antusias, berbondong-bondong untuk mengadu nasib  mencoba manisnya usaha budidaya belut tersebut namun ironisnya banyak diantara mereka yang akhirnya merasa putus asa dan kecewa karena apa yang dibayangkan dibenaknya ternyata tidak semanis yang digembar-gemborkan.

Usaha budidaya belut sebenarnya memang menguntungkan dan menjanjikan namun permasalahannya, banyak hal yang kurang diperhatikan oleh pelaku usaha budidaya tersebut. Seperti, faktor  media, benih, serta yang paling penting adalah analisa bisnisnya.

Meski faktor yang paling mempengaruhi tingkat kegagalan dalam budidaya belut adalah media budidaya namun, faktor yang tidak kalah pentingnya adalah kwalitas bibit belut itu sendiri. Belakangan ini banyak dijual bibit-bibit belut  yang tidak jelas asal usulnya dan ironisnya lagi, banyak penyedia bibit yang hanya memanfaatkan momen tanpa mengedepankan sportifitas. Mereka memanfaatkan kelangkaan bibit budidaya tersebut dengan menjual bibit sembarangan bahkan ada juga yang “tega” menjual bibit hasil setruman dengan tetap mematok harga yang mahal sehingga para peternak beranggapan bahwa bibit yang dibelinya adalah bibit yang baik karena harganya tersebut.

Sudah beberapa bulan terakhir ini, whisgoo agribisnis sendiri sengaja tidak menjual bibit belutnya kepada umum karena berbagai alasan, salah satunya adalah bahwa kini sudah saatnya para pelaku usaha pembesaran belut harus bisa menghasilkan bibit sendiri tanpa menggantungkan dari pihak lain. Pentingnya pelaku budidaya bisa menghasilkan bibit sendiri karena ianya dapat memangkas biaya produksi yang sangat besar mengingat hampir 60% biaya produksi disedot oleh biaya pengadaan bibit.

Untuk teknik pembibitan belut itu sendiri tidaklah sulit sebagaimana yang disangkakan, hanya saja proses tersebut membutuhkan sedikit kesabaran dan ketlatenan serta pengetahuan tentang teknis itu sendiri. Secara garis besar teknik yang digunakan untuk pembibitan sebenarnya hampir sama dengan teknik pembesaran belut hanya saja ada sedikit-sedikit metode yang diperlukannya.

Setiap petani pembibitan mempunyai metode dan trik masing-masing termasuk metode yang dipakai oleh tim pembibitan Whisgoo Agribisnis. Sekarang ini tim whisgoo juga sedang menulis ebook tentang bagaimana cara sederhana membibitkan dan membesarkan belut secara mandiri. Tujuannya agar pelaku budidaya betul-betul dapat merasakan manisnya keuntungan bisnis budidaya belut :-).

Mengapa perlu membibitkan sendiri? karena ada banyak keuntungan yang bisa diambil darinya, Antara lain ;

  1. Bibit yang dihasilkan sendiri bisa lebih cepat beradaptasi pada lingkungan kolam pembesaran.
  2. Dapat memangkas lebih dari 50% biaya pengadaan bibit.
  3. Bibit dari hasil pembibitan sendiri tetap jauh lebih baik karena bagaimanapun kwalitas bibit akan menurun drastis jika bibit didatangkan dari daerah lain meski sebenarnya bibit tersebut berkwalitas tinggi.  Hal ini disebabkan karena bibit akan mengalami stres dan kelelahan sewaktu pendistribusian terlebih jika jaraknya cukup jauh.
  4. Seandainya bibit tidak bisa besar, Anda dapat menjualnya langsung kepada pengrajin peyek belut atau olahan lainnya, meski harganya rendah tapi Anda tetap tidak rugi karena bibit Anda produksi sendiri.
  5. Dan masih banyak lagi …

Menurut pendapat pribadi kami, meski usaha budidaya pembesaran yang dilakukan menghasilkan 6 kg belut per setiap kilo gram bibit, jika kita masih membeli bibit dari pihak ketigasebenarnya sih keuntungan yang didapat itu masih terlalu mepet apalagi jika harga belut konsumsi dipasaran lagi anklok. . Terus bagaimana jika belut yang dihasilkan cuma 5 atau 4 atau 3 kg per setiap kilo gram bibit?  boro-boro untung… :-( balik modal aja dah bagus… he..he..

 

Tetap semangat bro… Solusi pasti datang….. :-).

 

Sidat, Komoditi Bernilai Tinggi

Mungkin masyarakat kita masih belum banyak yang mengenal sidat, hewan yang menyerupai belut atau ular ini di beberapa negara maju ternyata merupakan menu makanan primadona dan tergolong makanan mewah. Di Jepang misalnya, untuk mencicipi  masakan yang berbahan baku sidat atau di Jepang dikenal dengan istilah “unagi” ini, Anda harus rela merogoh kocek sebesar Rp. 250 – 650 ribu per porsi. Sebuah harga yang fantastis untuk ukuran kantong kita.

Sidat / Anguilla sp. (Latin) / Pelus (Jawa) / Shogili (Sulawesi) ternyata memiliki kandungan gizi  dan cita rasa yang tinggi selain itu, sidat juga mempunyai segudang manfaat diantaranya dapat mencerdaskan otak, meningkatkan vitalitas, stamina tubuh bahkan menurut para ahli nutrisi yang terkandung didalamnya dapat meremajakan sel-sel yang sudah rusak.

Permintaan pasar baik untuk domestik maupun pasar ekspor  selalu meningkat dari tahun ke tahun. Selama ini untuk memenuhi kebutuhan tersebut hanya bisa mengandalkan dari hasil tangkapan alam padahal ketersediaan sidat untuk ukuran konsumsi di alam sangat terbatas. Hal ini disebabkan karena pada fase  tersebut, sidat yang mulai menginjak dewasa  banyak dimangsa oleh hewan predator/pemangsa lainnya.

Teknologi budidaya sidat di Indonesia sebenarnya masih tergolong baru, usaha budidaya sidat ini baru dilakukan secara serius sekitar tahun 2007-an oleh Satuan Kerja Tambak Pandu Karawang, yang merupakan UPT Ditjen Perikanan Budi Daya, Departemen Kelautan dan Perikanan. Padahal usaha budidaya sidat di Jepang dan Thailang sudah lama dikembangkan.

Jepang merupakan negara yang paling besar membutuhkan pasokan sidat. Menurut Direktorat hasil laut dan perikanan RI, kebutuhan sidat dijepang mencapai lebih dari 130.000 ton per tahun sementara produksi dalam negrinya baru mencapai sekitar 22.000 ton per tahun. Untuk memenuhi kebutuhannya Jepang terpaksa mengimpor sidat dari beberapa negara seperti China, Thailand termasuk juga Indonesia. China merupakan negara yang menghasilkan  sidat terbesar namun baru-baru ini Jepang telah mem-black list produk sidat dari sana karena dipercaya mereka telah menggunakan  zat kimia untuk memacu pertumbuhan sidatnya. Sebagai alternatifnya, Jepang telah mengalihkan sebagian besar kebutuhannya kepada di Indonesia.

Perkembangbiakan sidat masih terkesan misterius. Beberapa ahli mengatakan bahwa sidat ini membutuhkan kondisi lingkungan tertentu untuk bisa memijah dan berkembang biak. Konon sebelum memijah, sidat melakukan migrasi ke lautan lepas dengan kedalaman minimal 400 m, dikedalaman tersebut sidat mulai melakukan proses perkawinan hingga telur yang dihasilkannya menetas sebelum akhirnya indukan tersebut mati.  Itulah sehingga kini kebutuhan benih sidat masih terus mengandalkan alam. Sebenarnya Jepang sudah pernah sukses melakukan pemijahan secara buatan, uji coba tersebut dilakukan di Laboratorium Freshwater Fishpropagation Universitas Hokaido, yaitu dengan cara menyuntikkan ekstrak kelenjar hipofisa ikan salmon. Dengan hormon tersebut mereka berhasil membantu mengeluarkan telur-telur sidat dari induknya bahkan telur-telur tersebut berhasil menetas dengan baik namun sayangnya larva-larva tersebut tidak bisa bertahan lama karena mereka belum berhasil menemukan makanan alami bagi larva-larva tersebut.

Kita patut bersyukur, Indonesia telah dikaruniai alam yang kaya akan ragam hayati termasuk ketersediaan bibit sidat dialam yang cukup melimpah, sekarang tergantung bagaimana kita bisa memanfaatkan segala potensi yang ada.

Bravo Agribisnis Indonesia.

Online Media Team

Panduan Budidaya Cacing

Tehnik Budidaya Cacing Lumbricus Rubellus, Cacing Pheretima Asiatica dan Cacing Plazoma

Persiapan Bahan ;

1. Wadah tempat budidaya ( Bisa menggunakan kotak bekas telur, terpal, kotak papan dan lain sebagainya.

2. Serbuk Gergaji yang sudah mengalami proses fermentasi ( Hasil penggergajian kayu kelas ringan seperti, kayu randu, kayu kelapa, Sengon dan lain sebagainya )

3. Semprotan air ( Untuk membasahi media jika terasa kering )

4. Bibit cacing ( bisa dari jenis Cacing LR, Pheretima A. maupun Cacing Plazoma )

5. Pakan Cacing ( Limbah sayur atau Ampas Tahu )

Langkah – Langkah Pembuatan :

1. Ambil wadah budidaya kemudian isi dengan serbuk gergaji yang sudah mengalami proses fermentasi.

2. Basahi media serbuk gergaji dengan air. Jangan terlalu basah atau pula jangan terlalu kering. Untuk mengecek tingkat kelembabannya dapat dilakukan dengan cara memeras media dengan kuat, jika media keluar banyak air berarti media terlalu basah dan jika diperas media tidak mengeluarkan air sama sekali berarti media tersebut terlalu kering. Kelembapan yang pas adalah ketika diremas hanya mengeluarkan sedikit air dicelah-celah jari.

3. Setelah Tingkat kelembapan sudah sesuai, masukkan sedikit bibit cacing untuk mengetahui apakah media tersebut udah cocok atau belum, jika sudah cocok, bibit bisa dimasukkan semua dengan kepadatan  ideal  1,5 Kg per M2. ( Media yang cocok adalah ketika bibit ditebar, cacing langsung masuk kedalam media dan tidak keluar lagi. )

4. Pada sore harinya, cacing diberi makan dengan cara menabur ampas tahu atau sisa limbah sayuran yang sudah dicacah kecil-kecil diatas media ( Pemberian pakan ini dilakukan setiap hari sekali yaitu pada waktu sore hari )

5. Cek kelembapan media setiap hari, jika media dirasa terlalu kering segera semprot dengan air secukupnya ( Usahakan media jangan terlalu basah atau kering )

Cara Memanen Cacing

Untuk mempermudah pemanenan, Media dikeluarkan kemudian media dibuat gundukan seperti kerucut dan diberi penerangan baik menggunakan sinar lampu maupun sinar matahari. Biarkan selama 5 – 10 menit agar cacing berangsur-angsur menuju kebawah.

Setelah cacing berbondong-bondong kebawah, segera batasi ruang gerak cacing dengan cara mengambil gundukan media bagian atas sedikit demi sedikit hingga yang tersisa hanya biomasa cacing didasar gundukan.

Jika pemberian pakan dan pengontrolan kelembapan dilakukan dengan baik, maka dalam 1 – 2 bulan kemudian belut akan berkembang minimal sebanyak 100 – 400%

Yang Perlu Diperhatikan dalam Budidaya Cacing

1. Media jangan terkena sinar matahari secara langsung atau terkena guyuran air hujan.

2. Hindari penggunaan air yang terkontaminasi dengan air garam, air sabun, odol dan bahan-bahan kimia lainnya.

3. Jangan memberi makan cacing dengan makanan yang bebau tajam seperti cabe, bawang, kulit jeruk dan lain sebagainya.

4. Tempatkan media budidaya diruangan yang agak remang-remang. Jangan ditempatkan diruangan yang terlalu gelap atau terlalu terang.

Good Luck !!!

Kenali cacing lebih dulu sebelum membudidayakannya….

Kunci sukses bagi seorang pelaku budidaya adalah mengenal lebih awal komoditas apa yang akan ia budidayakan. Begitu pula halnya dengan budidaya cacing. Sebelum memulai usaha budidaya cacing, sebaiknya kita perlu memahami prilaku cacing itu sendiri agar didalam proses budidaya nanti dapat mengatasi segala kendala yang ada.

Sebenarnya ada banyak jenis cacing yang bisa dibudidaya. Namun, disini kami hanya akan mengenalkan 3 jenis cacing yang memiliki potensi paling baik diantara jenis cacing lainnya, ketiga jenis tersebut adalah ;

1. Cacing Lumbricus Rubellus ( LR ).
2. Cacing Pheretima Asiatica ( PA ).
3. Cacing Plazoma.

Jenis-jenis cacing tersebut diatas, jika dilihat dari segi produktifitasnya lebih unggul dibanding jenis cacing lainnya seperti Cacing kalung, cacing koot dan cacing sondari.

Cacing Pheretima misalnya, dari 3 Kg bibit yang ditebar mampu berkembang menjadi 4 – 5 kg hanya dalam waktu 2 minggu saja. Tingkat pertumbuhannya yang relatif cepat inilah, cacing Pheretima menjadi pilihan alternatif untuk bahan baku pakan ternak dan ikan yang berprotein tinggi.

Selain bermanfaat sebagai bahan baku pakan ternak dan ikan, cacing juga mempunyai beberapa manfaat lainnya, seperti ;
1. Sebagai penghasil pupuk organik.
2. Sebagai pendaur ulang limbah.
3. Sebagai Umpan pancing.
4. Sebagai bahan baku obat dan kosmetik.
5. Dan masih banyak lagi kegunaannya

Tingkat kesulitan budidaya cacing tersebut juga tergolong sangat rendah, asal memperhatikan tehnik budidayanya Insya Allah siapapun bisa melakukannya.

Gak Percaya…? Silahkan dibuktikan… :-)

Belut Budidaya Anda Pertumbuhannya Lambat?

Ada apa dengan belut peliharaan gue ya…? Udah dikasih cacing tiap hari kok masih tetep aja lambat gedenya… kenapa ya..?

Ungkapan diatas adalah salah satu contoh permasalahan yang melanda sebagian besar peternak belut kita terutamanya bagi seorang peternak pemula. Ada beberapa penyebab mengapa belut budidaya lambat pertumbuhannya. Selain karena rendahnya kualitas bibit yang ditebar. Faktor makanan juga dapat mempengaruhi tingkat pertumbuhan belut. Makanan dengan nilai gizi yang seimbang akan mempercepat pertumbuhan belut itu sendiri. Begitu pula sebaliknya, pertumbuhan belut akan terhambat jika nutrisi/nilai gizi yang dibutuhkan belut tidak terpenuhi.

Menurut pengamatan kami selama ini, pertumbuhan belut masih akan terasa lambat jika belut hanya dikasih satu atau dua jenis pakan saja. Hal ini akan berbeda jika dengan pemberian pakan dengan nilai gizi yang komplit, kebutuhan nutrisi belut akan terpenuhi sehingga pertumbuhan menjadi optimal.

Salah satu solusi yang paling tepat adalah dengan menjadikan pelet sebagai makanan utamanya. Bisa menggunakan pelet ikan maupun pelet ayam (511P atau BR-1). Untuk membiasakan belut mau makan pellet, sebaiknya pellet yang akan diberikan sudah dicampur dengan cacahan cacing guna memberikan aroma alami, sehingga nafsu makan belut akan meningkat. Perbandingan antara pellet dan cacahan cacing adalah 1 : 1 dengan jadwal pemberian sehari sekali setiap sore hari.

Namun, permasalahan baru yang timbul dengan penggunaan pelet + cacing sebagai makanan utamanya adalah potensial terjadinya pembengkakan pada biaya pengadaan pakan, mengingat harga pellet dan cacing tidaklah murah. karena itulah, sangat direkomendasikan untuk membudidaya cacing sendiri dua bulan sebelum budidaya belut. Selain itu juga, untuk menghemat biaya sebaiknya pellet juga dibuat sendiri.

Khusus untuk cara budidaya cacing dan cara membuat pellet dapat Anda pelajari pada artikel kami selanjutnya. :-)

Selamat Mencoba dan tetap berbagi pengalaman untuk kemajuan budidaya belut Indonesia

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.